Rabu, 09 Desember 2015

Pengertian Posyandu Lansia Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya. Posyandu lansia merupakan suatu fasilitas pelayanan kesehatan yang berada di desa-desa yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya bagi warga yang sudah berusia lanjut. Posyandu lansia adalah wahana pelayanan bagi kaum usia lanjut yg dilakukan dari, oleh, dan untuk kaum usia yg menitikberatkan pd pelayanan promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif Posyandu lansia merupakan upaya kesh lansia yg mencakup kegiatan yankes yg bertujuan u/ mewujudkan masa tua yg bahagia dan berdayaguna B. Tujuan Posyandu Lansia Tujuan Umum Meningkatkan derajat kesehatan lansia untuk mencapai masa tua yg bahagia & berdaya guna dlm kehidupan keluarga dan masyarakat (Matra, 1996) Tujuan khusus 1. Meningkatkan kesadaran lansia untuk membina sendiri kesehatannya 2. Meningkatkan kemampuan & peran serta masy dlm menghayati & mengatasi masalah kesh lansia scr optimal 3. Meningkatkan jangkauan yankes lansia 4. Meningkatnya jenis dan mutu yankes lansia Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain : 1. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia 2. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut. C. Pelaksanaan Sistem Lima Posyandu Lansia Pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan sistem 5 meja yaitu: 1. Meja 1: Pendaftaran Mendaftarkan lansia, kemudian kader mencatat lansia tersebut. Lansia yang sudah terdaftar di buku register langsung menuju meja selanjutnya. 2. Meja 2: Kader melakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah 3. Meja 3: Pencatatan (Pengisian Kartu Menuju Sehat) Kader melakukan pencatatan di KMS lansia meliputi : Indeks Massa Tubuh, tekanan darah, berat badan, tinggi badan. 4. Meja 4: Penyuluhan Penyuluhan kesehatan perorangan berdasarkan KMS dan pemberian makanan tambahan. 5. Meja 5: Pelayanan medis Pelayanan oleh tenaga professional yaitu petugas dari Puskesmas/kesehatan meliputi kegiatan : pemeriksaan dan pengobatan ringan. D. Kader Lansia (pengertian, tugas, organisasi, pendanaan) 1. Pengertian Kader Lansia Kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan. Keberadaan kader sering dikaitkan dengan pelayanan rutin di posyandu. Padahal ada beberapa macam kader bisa dibentuk sesuai dengan keperluan menggerakkan partisipasi masyarakat atau sasarannya dalam program pelayanan kesehatan. 2. Tugas Kader Lansia Secara umum tugas-tugas kader lansia adalah sebagai berikut : a. Tugas-Tugas Kader 1) Tugas sebelum hari buka Posyandu (H - Posyandu) yaitu berupa tugas – tugas persiapan oleh kader agar kegiatan pada hari buka Posyandu berjalan dengan baik. 2) Tugas pada hari buka Posyandu (H Posyandu) yaitu berupa tugas-tugas untuk melaksanakan pelayanan 5 meja. 3) Tugas sesudah hari buka posyandu (H + Posyandu) yaitu berupa tugas - tugas setelah hari Posyandu. b. Tugas-Tugas Kader Pada Pelaksanaan Posyandu Lansia 1) Tugas-tugas kader Posyandu pada H - atau pada saat persiapa hari Posyandu, meliputi : a) Menyiapkan alat dan bahan : timbangan, tensimeter, stetoskop, KMS, alat peraga, obat-obatan yang dibutuhkan, bahan/materi penyuluhan dan lain-lain. b) Mengundang dan menggerakkan masyarakat, yaitu memberi tahu para lansia untuk datang ke Posyandu, serta melakukan pendekatan tokoh yang bisa membantu memotivasi masyarakat (lansia) untuk datang ke Posyandu c) Menghubungi kelompok kerja (Pokja) Posyandu yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa dan meminta memastikan apakah petugas sector bisa hadir pada hari buka Posyandu. d) Melaksanakan pembagian tugas : menentukan pembagian tugas diantara kader Posyandu baik untuk persiapan untuk pelaksanaan c. Organisasi Kader Lansia 1) Pemeriksaan kesehatan secara berkala : pendataan, screening, px kesh (gizi, jiwa, lab), pengobatan sederhana, pemberian suplemen vitamin, PMT 2) Peningkatan olahraga 3) Pengembangan ketrampilan :kesenian, bina usaha 4) Bimbingan pendalaman agama 5) Pengelolaan dana sehat 6) Pendanaan Kadar Lansia E. KMS Lansia Kartu menuju sehat (KMS) adalah suatu alat untuk mencatat kondisi kesehatan pribadi usia lanjut baik fisik maupun mental emosional. Kegunaan KMS untuk memantau dan menilai kemajuan Kesehatan Usia Lanjut yang dilaksanakan di kelompok Usia Lanjut atau Puskesmas Tata Cara pengisian KMS : 1. KMS berlaku 2 th, diisi o/ petugas kesh 2. Pada kunjungan pertama, diperiksa semua jenis tes yg tertera. Sedangkan pd kunjungan ulang cukup diperiksa sekali sebulan, kecuali u/ tes laboratorium dperiksa per 3 bulan (Hb, Urine, Protein) F. Latihan Gerak Dan Senam Lansia Senam adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta terencana yang dilakukan secara tersendiri atau berkelompok dengan maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan tersebut (Santosa, 1994). Lansia seseorang individu laki-laki maupun perempuan yang berumur antara 60-69 tahun. (Nugroho 1999:20) Jadi senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia yang dilakukan dengan maksud meningkatkan kemamp meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan tersebut. Manfaat Olahraga Bagi Lansia Manfaat dari olahraga bagi lanjut usia menurut Nugroho (1999; 157) antara lain : 1. Memperlancar proses degenerasi karena perubahan usia. 2. Mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmani dalam kehidupan (adaptasi) 3. Fungsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya terhadap bertambahnya tuntutan, misalya sakit.Sebagai Rehabilitas Pada lanjut usia terjadi penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut jantung maksimal, tolerasnsi latihan, kapasitas aerobik dan terjadinya peningkatan lemak tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia dapat mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan dari berbagai penelitian menunjukan bahwa latihan/olah raga seperti senam lansia dapatmengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan. (Darmojo 1999;81) Komponen aktivitas dan kebugaran Menurut Darmojo (1999:74) komponen aktivitas dan kebugaran terdiri dari: 1. Self Efficacy (keberdayagunaan-mandiri) adalah istilah untuk menggambarkan rasa percaya atas keamanan dalam melakukan aktivitas. Hal ini sangat berhubungan dengan ketidaktergantungan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan keberdayagunaan mandiri ini seorang usia lanjut mempunyai keberanian dalam melakukan aktivitas. 2. Latihan Pertahanan (resistence training) keuntungan fungsional atas latihan pertahanan berhubungan dengan hasil yang didapat atas jenis latihan yang bertahan, antara lain mengenai kecepatan bergerak sendi, luas lingkup gerak sendi (range of motion) dan jenis kekuatan. Yang dihasilkan pada penelitian-penelitian dipanti jompo didapatkan bahwa latihan pertahanan yang intensif akan meningkatkan kecepatan gart (langkah) sekitar 20% da kekuatan untuk menaiki tangga sebesar 23-38% 3. Daya Tahan (endurance) daya tahan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kerja dalam waktu yang relatif cukup lama. Pada lansia latihan daya tahan /kebugaran yang cukup keras akan meningkatkan kekuatan yang didapat dari latihan bertahan. Hasil akibat latihan kebugaran tersebut bersifat khas untuk latihan yang dijalankan (training specifik), sehingga latihan kebugaran akan meningkatkan kekuatan berjalan lebih dengan latihan bertahan. 4. Kelenturan (flexibility) pembatasan atas lingkup gerak sendi, banyak terjadi pada lanjut usia yang sering berakibat kekuatan otot dan tendon. Oleh karena itu latihan kelenturan sendi merupakan komponen penting dari latihan atau olah raga bagi lanjut usia. 5. Keseimbangan-keseimbangan merupakan penyebab utama yang sering mengakibatkan lansia sering jatuh. Keseimbangan merupakan tanggapan motork yang dihasikan oleh berbagai faktor, diantaranya input sesorik dan kekuatan otot. Penurunan keseimbangan pada lanjut usia bukan hanya sebagai akibat menurunya kekuatan otot atau penyakit yang diderita. Penurunan keseimbangan bisa diperbaiki dengan berbagai latihan keseimbangan. Latihan yang meliputi komponen keseimbangan akan menurukan insiden jatuh pada lansia. G. Latihan Kongnitif Lansia 1. PERUBAHAN KOGNITIF PADA LANSIA Proses penuaan menyebabkan kemunduran kemampuan otak. Diantara kemampuan yang menurun secara linier atau seiring dengan proses penuaan adalah: Daya Ingat (memori), berupa penurunan kemampuan penamaan (naming) dan kecepatan mencari kembali informasi yang telah tersimpan dalam pusat memori (speed of information retrieval from memory). Intelegensia Dasar (fluid intelligence) yang berarti penurunan fungsi otak bagian kanan yang antara lain berupa kesulitan dalam komunikasi non verbal, pemecahan masalah, mengenal wajah orang, kesulitan dalam pemusatan perhatian dan konsentrasi a. DEFENISI Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian. Pada usia muda, demensia bisa terjadi secara mendadak jika cedera hebat, penyakit atau zat-zat racun (misalnya karbon monoksida) menyebabkan hancurnya sel-sel otak. KONDISI DEMENSIA Kondisi gangguan kognitif pada lanjut usia dengan berbagai jenis gangguan seperti mudah lupa yang konsisten, disorientasi terutama dalam hal waktu, gangguan pada kemampuan pendapat dan pemecahan masalah, gangguan dalam hubungan dengan masyarakat, gangguan dalam aktivitas di rumah dan minat intelektual serta gangguan dalam pemeliharaan diri. TANDA dan GEJALA 1) Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari 2) Pelupa 3) Sering mengulang kata-kata 4) Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan 5) Cepat marah dan sulit di atur. 6) Kehilangan daya ingat 7) Kesulitan belajar dan mengingat informasi baru 8) Kurang konsentrasi 9) Kurang kebersihan diri 10) Rentan terhadap kecelakaan: jatuh 11) Mudah terangsang 12) Tremor 13) Kurang koordinasi gerakan. Pengenalan Dini Demensia Pengenalan dini demensia berarti mengenali : a. Kondisi normal (mengidentifikasi BSF dan AAMI): kondisi kognitif pada lanjut usia yang terjadi dengan adanya penambahan usia dan bersifat wajar. Contoh: keluhan mudah-lupa secara subyektif, tidak ada gangguan kognitif ataupun demensia. b. Kondisi pre-demensia (mengidentifikasi CIND dan MCI): kondisi gangguan kognitif pada lanjut usia dengan ciri mudah lupa yang makin nyata dan dikenali (diketahui dan diakui) oleh orang dekatnya. Mudah lupa subyektif dan obyektif serta ditemukan performa kognitif yang rendah tetapi belum ada tanda-tanda demensia. c. Kondisi demensia : kondisi gangguan kognitif pada lanjut usia dengan berbagai jenis gangguan seperti mudah lupa yang konsisten, disorientasi terutama dalam hal waktu, gangguan pada kemampuan pendapat dan pemecahan masalah, gangguan dalam hubungan dengan masyarakat, gangguan dalam aktivitas di rumah dan minat intelektual serta gangguan dalam pemeliharaan diri. 2. STRATEGI LATIHAN KOGNITIF a. Menurunkan cemas b. Tehnik relaksasi c. Biofeedback, menggunakan alat untuk menurunkan cemas dan memodifikasi respon perilaku. d. Systematic desenzatization. Dirancang untuk menurunkan perilaku yang berhubungan dengan stimulus spesifik misalnya karena ketinggian atau perjalanan melalui pesawat. Tehnik ini meliputi relaksasi otot dengan membayangkan situasi yang menyebabkan cemas. e. Flooding. Klien segera diekspose pada stimuli yang paling memicu cemas (tidak dilakukan secara berangsur – angsur) dengan menggunakan bayangan/imajinasi f. Pencegahan respon klien. Klien didukung untuk menghadapi situasi tanpa melakukan respon yang biasanya dilakukan. 3. TERAPI KOGNITIF a. Latihan kemampuan social meliputi : menanyakan pertanyaan, memberikan salam, berbicara dengan suara jelas, menghindari kiritik diri atau orang lain b. Aversion therapy : therapy ini menolong menurunkan perilaku yang tidak diinginkan tapi terus dilakukan. Terapi ini memberikan stimulasi yang membuat cemas atau penolakan pada saat tingkah laku maladaptive dilakukan klien. c. Contingency therapy: Meliputi kontrak formal antara klien dan terapis tentang apa definisi perilaku yang akan dirubah atau konsekuensi terhadap perilaku itu jika dilakukan. Meliputi konsekuensi positif untuk perilaku yang diinginkan dan konsekuensi negative untuk perilaku yang tidak diinginkan. 1. Kebutuhan nurtisi Kebutuhan nutrisi klien lanjut usia perlu dipenuhi secara adekuat untuk kelangsungan proses pergantian sel dalam tubuh, mengatasi proses menua, dan memperlambat terjadinya usia biologis. Kebutuhankalori pada klien lanjut usia berkurang karena berkurangnya kalori dasar akibat kagiatan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kagiatan tubuh dalam kegiatan istirahat, misalnya untuk jantung, sus, pernapasan, ginjal, dan lain-lain. Kebutuhan kalori klien lanjut usia tidak melebihi 1700 kalori, sebaiknya disesuaikan dengan macam kegiatannya. Kebutuhan protein normal usia lanjut adalah 1 gram/kgBB/hari. Makanan yang mengandung lemak hewani harus dukurangi, misalnya daging sapi, daging kerbau, kuning telur, otak, dan lain-lain. Lanjut usia disarankan mengonsumsi makanan tambahan yang banyak yang banyak mengandung kalsium (Ca) atau zat kapur. Kebutuhan kalsium klien lanjut usia adalah 14,1 mg/kg BB/hari. Zat besi perlu diberikan untuk memperlancar pembentukan darah. Lanjut usia perlu pula diberi buah-buahan untuk mendapatkan vitamin. Untuk menghindari konstipasi, klien lanjut usia perlu diberi cukup makanan yang mengandung serat, misalnya beras tumbuk, akar-akar hijau, kacang-kacangan, buah-buahan, serta banyak minum (1500-2000 cc) yang sekaligus berguna membantu kerja ginjal. 2. Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi Lnjut Usia a. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan (akibat keruskan gigi/ompong) b. Berkurangya cita rasa c. Berkurangnya koordinasi otot d. Keadaan fisik yang kurang baik e. Faktor ekonomi dan sosial f. Faktor penyerapan makanan (daya absorbsi) 3. Masalah Gizi Pada Lnjut Usia Masalah gizi tidak hanya terjadi pada balita dan ibu hamil, tetapi ternyata sering kali menimpa lanjut usia. Hal yang perlu mendapat perhatian ialah gizi berlebih, gizi kurang, dan kekurangan vitamin. a. Gizi Berlebih Gizi berlebihan pada lanjut usia banyak terdapat di Negara barat dan kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalagi pada lanjut usia karena penggunaan kalori berkurang karena berkuarangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan tersebut sulit untuk dirubah walaupun klien telah menyadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya penyakit jantung, diabetes mellitus, penyempitan pembuluh darah, dan tekanan darah tinggi. b. Gizi Kurang Gizi kurang sering disbabkan oleh masalah sosial-ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhka, hal tersebut menyebabkan berat badan berkurang dari normal. Apabila kondisi ini disertai kekurangan protein, kerusakan sel terjadi yang tidak dapat diperbaiki. Akibatnya, rambut rontok, daya tahan terdapat penyakit menurun, atau mudah terkena infeksi pada tubuh yang vital. Faktor Penyebab Malnutrisi pada Lanjut Usia 1) Penyebab akut dan kronis 2) Keterbatasan sumber/penghasilan 3) Hilangnya gigi 4) Kesalahan dalam pola makan 5) Kurangnya energy untuk mempersiapkan makanan 6) Kurangnya energy untuk mempersiapkan makanan 7) Kurang pengetahuan tentang nutrisi yang tepat c. Kekurangan vitamin Bila lanjut usia kurang mengonsumsi buah dan sayur, ditambah kekurangan protein dalam makanan, hal tersebut mengakibatkan nafsu makan berkurang, penglihatan mundur, kulit kering, lesu, lemah lunglai, dan tidak semangat. 4. Pengkajian Status Gizi Perawat harus melakukan pengkajian status gizi secara cermat dan sebaiknya menggunakan lebih dari satu parameter. Pertama, menggunakan pengukuran antropometrik, yaitu mengukur tinggi badan (TB) dan berat badan (BB), kemudian menghitung indeks Masa Tubuh (IMT). IMT dihitung dengan membagi berat badan (dalam kilogram) dengan kuadrat TB (dalam meter persegi). IMT normal untuk perempuan 17-23, sedangkan untuk laki-laki adalah 18-25. Pada saat mengukur tinggi badan seorang lanjut usia, perlu diingat bahwa lanjut usia dapat mengalami pengurangan tinggi badan seiring dengan pertambahan usia. Pengurangan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
1. Mencari inspirasi ide penelitian Mencari ide penelitian adalah awal dari proses kerja keras penelitian dalam rangka perjuangan untuk mendapatkan gelar sarjana. Mencari ide sama saja dengan mencari masalah yang ada disekeliling kita untuk diteliti. Ide yang kita temukan harus didukung oleh fakta dan data. Bagaimana cara mencari dan menemukan ide penelitian akan saya bahas di tulisan yang lain yang dapat dibaca disini 2. Mencari, mengumpulkan dan membaca sebanyak-banyaknya literatur Salah satu cara mendapatkan ide penelitian yaitu dengan membaca hasil penelitian atau jurnal ilmiah. Setelah kita mendapatkan ide dan telah mantap dengan ide penelitian tersebut, maka tahapan berikutnya kita harus memperbanyak literatur yang berhubungan dengan ide penelitian yang telah kita pilih. Sebaiknya sumber literatur yang dipilih adalah literatur primer seperti jurnal ilmiah, dan dokumen paten. Kita bisa mendapatkan artikel jurnal ilmiah dari sumber-sumber seperti: google scholar; portal garuda; website Perpustakaan Nasional; website jurnal yang sesuai dengan bidang kita; atau pada jurnal yang telah di langgani oleh perpustakaan kampus. Jika harus menggunakan literatur lainnya sebaiknya hanya digunakan untuk mendukung atau untuk mencari pemahaman yang berhubungan dengan penelitian yang akan kita lakukan. Contoh sumber literatur yang dapat mendukung literatur inti (literatur primer) yaitu: wikipedia, website himpunan ahli bidang tertentu, atau website repository kampus. Literatur yang banyak dapat membantu kita dalam menyusun rumusan masalah, tinjauan pustaka, dan yang paling penting yaitu menyusun metode penelitian. Studi literatur awal inilah inti dari proses penyusunan proposal penelitian. 3. Merumuskan masalah penelitian Setelah mengumpulkan dan membaca literatur yang didapatkan, kita sudah dapat menuliskan rumusan masalah dari penelitian yang akan dilakukan. rumusan masalah ini dibuat dalam bentuk draf. Isi dari rumusan masalah ini berisi latar belakang singkat dan masalah yang ingin dipecahkan melalui penelitian yang akan dilakukan. 4. Diskusi pertama dengan pembimbing Jika telah mempunyai rumusan masalah yang berasal dari ide awal penelitian yang dipertajam oleh studi literatur. kita sudah punya modal awal yang cukup untuk bertemu dengan pembimbing untuk membicarakan rencana penelitian kita. Ingat, hindari menghadap ke dosen jika belum memiliki bahan yang cukup banyak untuk dibicarakan. Buat list pertanyaan-pertanyaan atau hal-hal yang ingin didiskusikan dengan pembimbing. Jika hasil pertemuan pembimbing sudah menyakatan idenya bagus, kita dapat melanjutkan ketahap selanjutnya yaitu membuat diagram alir. Jika tidak, terpaksa kita mengulang lagi ke tahap pertama sesuai dengan arahan pembimbing kita. 5. Membuat diagram alir penelitian Dengan bermodalkan literatur yang sudah ada, kita dapat membuat diagram alir tahapan-tahapan yang ingin dilakukan. tidak perlu menuliskan secara rinci mengenai metode penelitian, metode analisa, atau alat dan bahan yang dibutuhkan, cukup diagram alir saja. Draf diagram alir ini akan kita diskusikan ke pembimbing. 6. Diskusi kedua dengan pembimbing Diskusi kedua kali ini membahas mengenai prosedur penelitian yang akan dilakukan berdasarkan draf yang telah dibuat, Usahakan hasil diskusi ini akan betul-betul melahirkan metode penelitian yang final sehingga kita bisa menyusun metode penelitian (Bab III) 7. Menyusun Metode Penelitian, dan menentukan judul Berdasarkan hasil diskusi mengenai prosedur penelitian. Kita sudah dapat menyusun Bab III mengenai Metode Penelitian. Setelah Metode Penelitian dan rumusan masalah telah mantap, maka kita sudah dapat menentukan judul penelitian. Judul penelitian setidaknya dapat menunjukkan metode dan masalah yang dikaji. Dari judul akan menghasilkan beberapa keywords penelitian. 8. Menyusun latar belakang Latar belakang merupakan pengembangan dari rumusan masalah yang telah dibuat. Latar belakang juga menjawab mengenai pengertian atau penjelasan keywords yang terdapat di judul. Untuk proses pembuatan latar belakang akan saya jelaskan di tulisan saya yang lain di blog ini. 9. Menyusun tinjauan pustaka Tinjauan pustaka disusun berdasarkan pengembangan dari latar belakang. Sebelum membuat tinjauan pustaka terlebih dahulu dibuat kerangka pikir atau struktur dari tinjauan pustaka. Hindari plagiarism dalam penyusunan tinjauan pustaka seperti copy-paste atau tidak memasukkan nama penulis dari bahan rujukan. 10. Diskusi lagi dengan pembimbing. Nah, setelah Bab I sampai Bab III jadi kita sudah bisa menghadap ke pembimbing lagi untuk didiskusikan. Untuk yg penelitian dibidang eksakta, kalau bisa cobalah dulu melakukan penelitian percobaan sebelum melakukan seminar proposal. Demikian langkah-langkah penyusunan proposal penelitian, lain halnya kalau kalian diikutkan dalam proyek penelitian dosen, karena prosalnya sudah jadi, jadi kalian tidak perlu mengikuti langkah-langkah diatas cukup dipahami dan dipelajari saja proposal dari dosennya dan perbanyak diskusi dengan dosennya. Semoga pembuatan proposalnya lancar jaya sentosa. Amin.

skripsi

Pertama. Tahap sosialisasi 1 (persiapan) Pada tahap ini staf program studi (prodi) biasanya mengumpulkan mahasiswa tingkat akhir. Atau bisa juga menginformasikan di kelas terkait pengusunan skripsi. Terutama adalah time schedule dari awal hingga akhir. Selain itu pada tahap ini biasanya prodi juga meminta mahasiswa mulai mempersiapkan ajuan judul. Tips, perhatikan dengan benar time schedule. Siapkan target penyelesaiaan selekasnya. Kedua. Tahap sosialisasi 2 (pemaparan umum) Pada tahap ini biasanya diadakan semacam seminar atau stadium general. Pada acara itu dipaparkan secara umum bagaimana cara menyusun skripsi. Mulai dari jenis-jenis penelitian hingga sistematika penulisan. Ketiga. Ajuan judul Pada tahap ini mahasiswa diminta mengajukan judul yang dilayangkan pada ketua prodi (jurusan). Judul yang diajukan biasanya 3 atau 4. Tergantung kebijakan masing-masing prodi. Bagaimana contoh bentuk ajuan judul skripsi? Klik di sini Tipsnya silakan ajukan judul yang kesemuanya sahabat kuasai. Jangan sampai hanya 1 yang dikuasai. Atau ada 1 yang tidak dikuasai. Ada beberapa kasus di lapangan, DBS memilih judul yang tidak dikuasai mahasiswa tersebut. Keempat. Seleksi judul Meski ajuan ditujukan pada ketua prodi, sejatinya yang memproses pemilihan judul adalah DBS (Dosen Bimbingan Skrispi) yang telah dipilih oleh prodi. DBS biasanya adalah dosen senior yang berpengalaman. DBS memilih satu dari empat ajuan judul tersebut. Atau kalau keempat judul tidak layak, akan meminta mahasiswa mengajukan judul baru. Bila ajuan judul di-acc, prodi juga akan mementukan DBS masing-masing mahasiswa. Biasanya dua.Pembimbing satu dan dua. Tipsnya, berdoalah banyak-banyak agar judul yang dipilih adalah judul yang palig dikuasai. Kelima. Penyusunan Proposal Penelitian Pada tahap ini mahasiswa diminta untuk membuat proposal penelitian. Sistematikanya belum per bab, melainkan per-item. Contoh 1. Latar belakang masalah, 2. Rumusan masalah atau A. Latar belakang masalah, B. Rumusan masalah, dll sampai daftar pustaka. Tergantung gaya selingkung kampus masing-masing. Yang pasti, proposal penelitian ini menjadi semacam intisari dari apa yang akan kita buat nanti (skripsi lengkap) Tipsnya: Kerjakan proposal dengan teliti dan sungguh-sungguh. Ini pijak landas untuk tahap berikutnya. Keenam. Sidang proposal Pada tahap ini masing-masing mahasiswa dipersilakan untuk mempresentasikan proposal penelitian yang sudah disusun dihadapan DBS dan teman sejawat. Biasanya digrupkan berdasarkan jenis penelitian. Ada yang PTK (Penelitian Tindakan Kelas), Esperimen dan penelitian murni. Kadang tidak semua proposal dipresentasikan, terutama jika ada dua mahasiswa dengan proposal sejenis. Tujuan sidang ini bukan untuk penilaian, melainkan demi arahan dan perbaikan bagi mahasiswa. Tips: Manfaatkan momen ini untuk bertanya lebih lanjut perihal masalah apa yang dihadapi, toh ini buan ajang penilaian. Ketujuh. Masa Penyusunan Nah, pada tahap ini inti dari pengerjaan skripsi dilakukan. Mulai dari Bab 1 sampai akhir. Ada yang 5 bab, 6 bab, 4 bab, tergantung jenis penelitian dan gaya selingkung prodi. Bagi yang melakukan PTK, pada tahap ini mereka juga melakukan penerapan teori di kelas. Per siklus. Minimal biasanya dua siklus, maksimalnya 4 atau lebih, tergantung kebutuhan. Pun penelitian eksperimen. Untuk penelitian analisis, tugasnya ya menganalisis. Pada tahap ini juga diadaan sesi bimbingan. Mekanismenya tergantung kondisi dan gayamasing-masing DBS. Ada yang per-bab, ada yang sekaligus. Ada yang e pembimbing 1 dulu, ada yang ke pembimbing 2 dulu. Dll. Jangan lupa mengisi kartu bimbingan. Tipsya, pantang menyerah, walau banyak revisi, terus jalani, baik-baik sama dosen pembimbing, jangan ngeyel. Cari referensi terbaik. Kedelapan. Sidang skripsi Sidang biasanya dilakuan setelah acc keseluruhan skripsi baik pembimbing 1 maupun 2. Jua setelah mahasiswa mengadakan ajuan sidang. Sidang dilakukan beradasar jadwal prodi. Biasanya ada gelombang. Sidang skripsi biasanya digawangi 4 dosen per-ruangan.1 mahasiswa menghadapi pertanyaan 4 dosen. Mahasiswa yang skripsinya hasil orang lain, tentu keder. Yang buatan sendiri saja kadang kewalahan, apalagi yang hasil orang lain. Tipsnya, tenangkan diri. Kuasai materi. Jawab pertanyaan dengan lugas. Pada tahap sidang ini, kita dinilai. Kesembilan. Revisi skripsi. Setelah sidang biasanya ada revisi (perbaikan). Jangan lupa segera revisi. Kalau ada kesuitan segera hubungi dosen pembimbing. Mereka tentu akan membantu. Jangan lupa menyiapkan lembar pengesahan, formatnya ada di blog ini, search saja di kanan atas Tips. Skrispi revisi ini biasanya dijadikan bahan nilai skripsi. Lakukan yang terbaik sesuai saran. Kesepuluh. Siapan jurnal. Tahap ini tergantung gaya selingkung kampus. Di kampus saya dulu, skripsi harus diperas jadi jurnal. Formatnya sudah disediakan. Data diprint selain itu juga dimasukan ke dalam CD. Kemudian diupload oleh admin kampus. Selesai. Ini adalah tahap akhir dari penulisan skripsi. Setelah selesai, data sudah ditandatangani semua, tinggal daftar wisuda. Tak berapa lama lagi akan wisuda. Gelar S agar segera disandang. Hehe. Demikianlah sekilas tentang tahapan menulis skrispi. Tentu ada perbedaan setiap kampus. Jika ada masukan, silakan. Hal mengenai penulisan skripsi, cari aja di blog ini. Nantikan tulisan seri menulis skripsi berikutnya. CONTOH PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI Pengajuan Judul Skripsi Ciamis, 25 November 2014 Yth. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Galuh Di Ciamis Dengan ini, Nama : EMMIE APRIANI No. Pokok : 2108090082 TK/SMT IV/ VII Mengajukan rencana judul/ permasalahan penelitian di bawah ini untuk mendapat pertimbangan/ persetujuan. 1. Masalah : · Mengapa novelis yang terkemuka sebagian besar adalah lelaki? · Faktor apa yang menyebabkan, karya novelis lelaki lebih diminati? · Bagaimana validitas teori yang menyatakan bahwa wanita baik dalam bidang seni dan bahasa, sedangkan dalam kenyataannya jarang sekali kita mendengar nama novelis wanita yang terkemuka? Judul : KORELASI GENDER TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS NOVEL ( Penelian Terhadap Tingkat Dua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Galuh) 2. Masalah : · Apakah idealisme memepengaruhi wacana yang ditulis anggota Linguistika? · Seberapa kuatkah idealisme mempengaruhi wacana berita yang ditulis oleh anggota Linguistika? Judul : ANALISIS WACANA KRITIS: IDEALISME PENULIS DALAM WACANA BERITA TABLOID LINGUISTIKA 3. Masalah : · Mahasiswa program studi bahasa dan sastra Indonesia terkadang bingung menyalurkan karyanya. · Bisakah Tabloit Linguistika menjadi wadah tulisan mahasiswa? Judul : PENGARUH TABLOID LINGUISTIKA MAHASISWA PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 4. Masalah : · Kurangnya refensi novel sebagai bahan ajar di SMA · Kurangnya kemampuan guru dalam memilih bahan ajar yang tepat untuk siswa SMA Judul : ANALISIS UNSUR DEDAKTIS NOVEL “AYAHKU BUKAN PEMBOHONG” KARYA TERE-LIYE MEMILIH BAHAN AJAR DI SMA Terima kasih. Catatan DBS: Ciamis, 25 November 2014 Mahasiswa ybs., EMMIE APRIANI 2109080082

lansia dengan demensia

Demensia Demensia adalah suatu gangguan intelektual/daya ingat yang umumnya progresif dan ireversibel. Biasanya ini sering terjadi pada orang yang berusia > 65 tahun. Di Indonesia sering menganggap bahwa demensia ini merupakan gejala yang normal pada setiap orang tua. Namun kenyataan bahwa suatu anggapan atau persepsi yang salah bahwa setiap orang tua mengalami gangguan atau penurunan daya ingat adalah suatu proses yang normal saja. Anggapan ini harus dihilangkan dari pandangan masyarakat kita yang salah. Faktor resiko yang sering menyebabkan lanjut usia terkena demensia adalah: usia, riwayat keluarga, jenis kelamin perempuan. Demensia merupakan suatu penyakit degeneratif primer pada susunan sistem saraf pusat dan merupakan penyakit vaskuler. Kriteria derajat demensia: Ringan:walaupun terdapat gangguan berat daya kerja dan aktivitas sosial, kapasitas untuk hidup mandiri tetap dengan higiene personal cukup dan penilaian umum yang baik. Sedang:hidup mandiri berbahaya diperlukan berbagai tingkat suportivitas. Berat:aktivitas kehidupan sehari-hari terganggu sehingga tidak berkesinambungan, inkoherensi. Terdapat 7 jenis demensia yang sering terjadi pada lansia, yaitu: Demensia Tipe Alzheimer Demensia Vaskuler Demensia Pick Demensia Penyakit Creutzfeldt – Jacob Demensia karena Penyakit Huntington Demensia karena Hidrosefalus Tekanan Normal Demensia karena Penyakit Parkinson Pengertian Lansia Menurut para Ahli | Apa itu lansia? Istilah lansia (lanjut usia) umumnya digunakan untuk pria dan wanita yang telah berusia lanjut. Berdasarkan pengertian secara umum, seseorang disebut lansia apabila usianya 65 tahun ke atas. Terdapat batasan-batasan umur yang mencakup batasan umur orang yang masuk dalam kategori lansia, diantaranya adalah 60 tahun (UU No. 13 Tahun 1998) dan 60-74 tahun (WHO). Lansia adalah suatu keadaan yang ditandai oleh gagalnya seorang dalam mempertahankan kesetimbangan terhadap kesehatan dan kondisi stres fisiologis. Lansia juga berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual. Selain pengertian lansia secara umum diatas, terdapat juga beberapa pengertian lansia menurut para ahli. Pengertian Lansia Menurut para Ahli Ilustrasi Berikut ini beberapa pengertian lansia menurut para ahli: Pengertian Lansia Menurut Smith (1999): Lansia terbagi menjadi tiga, yaitu: young old (65-74 tahun); middle old (75-84 tahun); dan old old (lebih dari 85 tahun). Pengertian Lansia Menurut Setyonegoro: Lansia adalah orang yang berusia lebih dari 65 tahun. Selanjutnya terbagi ke dalam 70-75 tahun (young old); 75-80 tahun (old); dan lebih dari 80 tahun (very old). Pengertian Lansia Menurut UU No. 13 Tahun 1998: Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Pengertian Lansia Menurut WHO: Lansia adalah pria dan wanita yang telah mencapai usia 60-74 tahun. Pengertian Lansia Menurut Sumiati AM: Seseorang dikatakan masuk usia lansia jika usianya telah mencapai 65 tahun ke atas. Pengertian Lanjut Usia (Lansia) § Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari (Azwar, 2006). § Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi didalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, pengelihatan semakin memburuk, gerakan lambat dan figur tubuh yang tidak proporsional (Nugroho, 2006). § Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005). § WHO dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa usia 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh. § Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998). Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat § Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides 1994). Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho Wahyudi, 2000) § Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000). § Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994). Karena itu di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural disebut penyakit degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal (Darmojo dan Martono, 1999). § Menua secara normal dari system saraf didefinisikan sebagai perubahan oleh usia yang terjadi pada individu yang sehat bebas dari penyakit saraf “jelas” menua normal ditandai oleh perubahan gradual dan lambat laun dari fungsi-fungsi tertentu (Tjokronegroho Arjatmo dan Hendra Utama, 1995). 2. Batasan Lansia a. WHO (1999) menggolongkan lanjut usia berdasarkan usia kronologis/ biologis menjadi 4 kelompok yaitu : 1) usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 2) lanjut usia (elderly) berusia antara 60 dan 74 tahun 3) lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun 4) usia sangat tua (Very old) di atas 90 tahun. b. Sedangkan Nugroho (2000) menyimpulkan pembagian umur berdasarkan pendapat beberapa ahli, bahwa yang disebut lanjut usia adalah orang yang telah berumur 65 tahun ke atas. c. Menurut Prof. Dr. Koesmanto Setyonegoro, lanjut usia dikelompokkan menjadi: 1) usia dewasa muda (elderly adulthood), atau 29 – 25 tahun, 2) usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, 25 – 60 tahun atau 65 tahun, 3) lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 tahun atau 70 tahun yang dibagi lagi dengan: a) 70 – 75 tahun (young old), 75 – 80 tahun (old), b) lebih dari 80 (very old). d. Menurut Undang-Undang No. 4 Tahun 1965 Pasal 1 seseorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas e. Penggolongan lansia menurut Depkes RI dikutip dari Azis (1994) menjadi tiga kelompok yakni : 1) Kelompok lansia dini (55 – 64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia. 2) Kelompok lansia (65 tahun ke atas). 3) Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun. 3. Fisiologi Lansia Proses penuaan adalah normal, berlangsung secara terus menerus secara alamiah. Dimulai sejak manusia lahir bahkan sebelumnya dan umunya dialami seluruh makhluk hidup. Menua merupakan proses penurunan fungsi struktural tubuh yang diikuti penurunan daya tahan tubuh. Setiap orang akan mengalami masa tua, akan tetapi penuaan pada tiap seseorang berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor herediter, nutrisi, stress, status kesehatan dan lain-lain (Stanley, 2006). 4. Proses Menua Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah. Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan: a. Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial, b. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, c. Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo, 1996) Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus-menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh MunandarAshar Sunyoto (1994) menyebutkan masalah – masalah yang menyertai lansia yaitu: a. Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain b. Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya c. Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah d. Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak e. Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalah perubahan gerak. Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992) Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri-ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979 dalam Munandar, 1994) adalah: a. Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya. b. Penarikan diri ke dalam dunia fantasi c. Selalu mengingat kembali masa lalu d. Selalu khawatir karena pengangguran, e. Kurang ada motivasi, f. Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan g. Tempat tinggal yang tidak diinginkan. Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimla trehadap diri dan orang lain. 5. Karakteristik Lansia Beberapa karakteristik lansia yang perlu diketahui untuk mengetahui keberadaan masalah kesehatan lansia adalah: a. Jenis kelamin: Lansia lebih banyak pada wanita. Terdapat perbedaan kebutuhan dan masalah kesehatan yang berbeda antara lansia laki-laki dan perempuan. Misalnya lansia laki-laki sibuk dengan hipertropi prostat, maka perempuan mungkin menghadapi osteoporosis. b. Status perkawinan: Status masih pasangan lengkap atau sudah hidup janda atau duda akan mempengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun psikologis. c. Living arrangement: misalnya keadaan pasangan, tinggal sendiri atau bersama instri, anak atau kekuarga lainnya. 1) Tanggungan keluarga: masih menangung anak atau anggota keluarga. 2) Tempat tinggal: rumah sendiri, tinggal bersama anak. Dengan ini kebanyakan lansia masih hidup sebagai bagian keluarganya, baik lansia sebagai kepala keluarga atau bagian dari keluarga anaknya. Namun akan cenderung bahwa lansia akan di tinggalkan oleh keturunannya dalam rumah yang berbeda. Menurut Darmawan mengungkapkan ada 5 tipe kepribadian lansia yang perlu kita ketahui, yaitu: tipe konstruktif (constructive person-ality), tipe mandiri (independent personality), tipe tergantung (hostilty personality) dan tipe kritik diri (self hate personality). d. Kondisi kesehatan 1) Kondisi umum: Kemampuan umum untuk tidak tergantung kepada orang lain dalam kegiatan sehari-hari seperti mandi, buang air besar dan kecil. 2) Frekuensi sakit: Frekuensi sakit yang tinggi menyebabkan menjadi tidak produktif lagi bahkan mulai tergantung kepada orang lain. e. Keadaan ekonomi 1) Sumber pendapatan resmi: Pensiunan ditambah sumber pendapatan lain kalau masih bisa aktif. 2) Sumber pendapatan keluarga: Ada bahkan tidaknya bantuan keuangan dari anak atau keluarga lainnya atau bahkan masih ada anggota keluarga yang tergantung padanya. 3) kemampuan pendapatan: Lansia memerlukan biaya yang lebih tinggi, sementara pendapatan semakin menurun. Status ekonomi sangat terancam, sehinga cukup beralasan untuk melakukann berbagai perubahan besar dalam kehidupan, menentukan kondisi hidup yang dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisik 6. Teori Proses Menua a. Teori – teori biologi 1) Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory) Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies – spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul – molekul / DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel – sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel) 2) Pemakaian dan rusak Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel – sel tubuh lelah (rusak) 3) Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory) Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. 4) Teori “immunology slow virus” (immunology slow virus theory) Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ tubuh. 5) Teori stres Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai. 6) Teori radikal bebas Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi. 7) Teori rantai silang Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi. 8) Teori program Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati. b. Teori kejiwaan sosial 1) Aktivitas atau kegiatan (activity theory) § Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. § Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia. § Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia. 2) Kepribadian berlanjut (continuity theory) Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki. 3) Teori pembebasan (disengagement theory) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni : § kehilangan peran § hambatan kontak sosial § berkurangnya kontak komitmen Sedangkan Teori penuaan secara umum menurut Lilik Ma’rifatul (2011) dapat dibedakan menjadi dua yaitu teori biologi dan teori penuaan psikososial a. Teori Biologi 1) Teori seluler Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan sel–sel tubuh “diprogram” untuk membelah 50 kali. Jika sel pada lansia dari tubuh dan dibiakkan di laboratrium, lalu diobrservasi, jumlah sel–sel yang akan membelah, jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit. Pada beberapa sistem, seperti sistem saraf, sistem musculoskeletal dan jantung, sel pada jaringan dan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu, sistem tersebut beresiko akan mengalami proses penuaan dan mempunyai kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali untuk tumbuh dan memperbaiki diri (Azizah, 2011) 2) Sintesis Protein (Kolagen dan Elastis) Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada lansia. Proses kehilangan elastiaitas ini dihubungkan dengan adanya perubahan kimia pada komponen protein dalam jaringan tertentu. Pada lansia beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan elastin pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan struktur yang berbeda dari protein yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen pada kartilago dan elastin pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta menjadi lebih tebal, seiring dengan bertambahnya usia (Tortora dan Anagnostakos, 1990). Hal ini dapat lebih mudah dihubungkan dengan perubahan permukaan kulit yang kehilangan elastisitanya dan cenderung berkerut, juga terjadinya penurunan mobilitas dan kecepatan pada system musculoskeletal (Azizah, 2011). 3) Keracunan Oksigen Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel di dalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme pertahan diri tertentu. Ketidakmampuan mempertahankan diri dari toksink tersebut membuat struktur membran sel mengalami perubahan dari rigid, serta terjadi kesalahan genetik (Tortora dan Anaggnostakos, 1990). Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitas sel dalam berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga mengontrol proses pengambilan nutrisi dengan proses ekskresi zat toksik di dalam tubuh. Fungsi komponen protein pada membran sel yang sangat penting bagi proses di atas, dipengaruhi oleh rigiditas membran tersebut. Konsekuensi dari kesalahan genetik adalah adanya penurunan reproduksi sel oleh mitosis yang mengakibatkan jumlah sel anak di semua jaringan dan organ berkurang. Hal ini akan menyebabkan peningkatan kerusakan sistem tubuh (Azizah, 2011). 4) Sistem Imun Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan. Walaupun demikian, kemunduran kemampuan sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang berkontribusi dalam proses penuaan. Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca tranlasi, dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri. Jika mutasi isomatik menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai selasing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun. Disisi lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah (Azizah, 2011). 5) Teori Menua Akibat Metabolisme Menurut MC Kay et all., (1935) yang dikutip Darmojo dan Martono (2004), pengurangan “intake” kalori pada rodentia muda akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur. Perpanjangan umur karena jumlah kalori tersebut antara lain disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang merangsang pruferasi sel misalnya insulin dan hormon pertumbuhan. b. Teori Psikologis 1) Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory) Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya setelah menua. Sense of integrity yang dibangun dimasa mudanya tetap terpelihara sampai tua. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah meraka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial (Azizah, 2011). 2) Kepribadian berlanjut (Continuity Theory) Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Identity pada lansia yang sudah mantap memudahkan dalam memelihara hubungan dengan masyarakat, melibatkan diri dengan masalah di masyarakat, kelurga dan hubungan interpersonal (Azizah, 2011). 3) Teori Pembebasan (Disengagement Theory) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara pelan tetapi pasti mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya (Azizah, 2011). 7. Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia, antara lain: (Setiabudhi,1999) a. Permasalahan umum 1) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan. 2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan , dihargai dan dihormati. 3) Lahirnya kelompok masyarakat industri. 4) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia. 5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia. b. Permasalahan khusus : 1) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental maupun sosial. 2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia. 3) Rendahnya produktifitas kerja lansia. 4) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat. 5) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik. 6) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia. Lanjut Usia (Lansia) 8. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan 1) Hereditas atau ketuaan genetik 2) Nutrisi atau makanan 3) Status kesehatan 4) Pengalaman hidup 5) Lingkungan 6) Stres 9. Perubahan – perubahan Yang Terjadi Pada Lansia Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia, tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga kognitif, perasaan, sosial dan sexual (Azizah, 2011). a. Perubahan Fisik 1) Sistem Indra Sistem pendengaran; Prebiakusis (gangguan pada pendengaran) oleh karena hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun. 2) Sistem Intergumen: Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis kering dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atropi glandula sebasea dan glandula sudoritera, timbul pigmen berwarna coklat pada kulit dikenal dengan liver spot. 3) Sistem Muskuloskeletal Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia antara lain sebagai berikut: Jaringan penghubung (kolagen dan elastin). Kolagen sebagai pendukung utama kulit, tendon, tulang, kartilago dan jaringan pengikat mengalami perubahan menjadi bentangan yang tidak teratur. 4) Kartilago: jaringan kartilago pada persendian lunak dan mengalami granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata, kemudian kemampuan kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung kearah progresif, konsekuensinya kartilago pada persendiaan menjadi rentan terhadap gesekan. 5) Tulang: berkurangnya kepadatan tualng setelah di obserfasi adalah bagian dari penuaan fisiologi akan mengakibatkan osteoporosis lebih lanjut mengakibatkan nyeri, deformitas dan fraktur. 6) Otot: perubahan struktur otot pada penuaan sangat berfariasi, penurunan jumlah dan ukuran serabut otot, peningkatan jaringan penghubung dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan efek negatif. 7) Sendi; pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligament dan fasia mengalami penuaan elastisitas. 8) Sistem kardiovaskuler Massa jantung bertambah, vertikel kiri mengalami hipertropi dan kemampuan peregangan jantung berkurang karena perubahan pada jaringan ikat dan penumpukan lipofusin dan klasifikasi Sa nude dan jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat. 9) Sistem respirasi Pada penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru, kapasitas total paru tetap, tetapi volume cadangan paru bertambah untuk mengompensasi kenaikan ruang rugi paru, udara yang mengalir ke paru berkurang. Perubahan pada otot, kartilago dan sendi torak mengakibatkan gerakan pernapasan terganggu dan kemampuan peregangan toraks berkurang. 10) Pencernaan dan Metabolisme Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan, seperti penurunan produksi sebagai kemunduran fungsi yang nyata : a) Kehilangan gigi, b) Indra pengecap menurun, c) Rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), d) Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah. 11) Sistem perkemihan Pada sistem perkemihan terjadi perubahan yang signifikan. Banyak fungsi yang mengalami kemunduran, contohnya laju filtrasi, ekskresi, dan reabsorpsi oleh ginjal. 12) Sistem saraf Sistem susunan saraf mengalami perubahan anatomi dan atropi yang progresif pada serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. 13) Sistem reproduksi Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan menciutnya ovary dan uterus. Terjadi atropi payudara. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur. b. Perubahan Kognitif 1) Memory (Daya ingat, Ingatan) 2) IQ (Intellegent Quocient) 3) Kemampuan Belajar (Learning) 4) Kemampuan Pemahaman (Comprehension) 5) Pemecahan Masalah (Problem Solving) 6) Pengambilan Keputusan (Decission Making) 7) Kebijaksanaan (Wisdom) 8) Kinerja (Performance) 9) Motivasi c. Perubahan mental Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental : 1) Pertama-tama perubahan fisik, khsusnya organ perasa. 2) Kesehatan umum 3) Tingkat pendidikan 4) Keturunan (hereditas) 5) Lingkungan 6) Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian. 7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan. 8) Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili. 9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri. d. Perubahan spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya, hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970) e. Kesehatan Psikososial 1) Kesepian Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat meninggal terutama jika lansia mengalami penurunan kesehatan, seperti menderita penyakit fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama pendengaran. 2) Duka cita (Bereavement) Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau bahkan hewan kesayangan dapat meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh pada lansia. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatan. 3) Depresi Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong, lalu diikuti dengan keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi suatu episode depresi. Depresi juga dapat disebabkan karena stres lingkungan dan menurunnya kemampuan adaptasi. 4) Gangguan cemas Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik, gangguan cemas umum, gangguan stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif, gangguan-gangguan tersebut merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis, depresi, efek samping obat, atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat. 5) Parafrenia Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan waham (curiga), lansia sering merasa tetangganya mencuri barang-barangnya atau berniat membunuhnya. Biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi/diisolasi atau menarik diri dari kegiatan sosial. 6) Sindroma Diogenes Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku sangat mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia bermain-main dengan feses dan urin nya, sering menumpuk barang dengan tidak teratur. Walaupun telah dibersihkan, keadaan tersebut dapat terulang kembali. 10. Sarana Dan Prasarana Yang Dipergunakan Sarana dan prasarana yang dipergunakan untuk menylengarakan pelayanan terhadap lansia, baik sarana fisik, sosial dan spiritual yang dijalankan di berbagai tingkatan dapat kita lihat di dawah ini adalah: a. Pelayanan tingkat masyarakat Pelayanan terhadap lansia adalah: keluarga dengan lansia, kelompok lansia seperti klub/perkumpulan, panguyuban, padepokan dan pengajian, serta bina keluarga lansia. Masyarakat mencakup LKMD, Karang wreda day care dana sehat/JPKM. b. Pelayanan tingkat dasar Pelayanan yang di selengarakan oleh berbagai instansi pemerintahan dan swasta serta organisasi masyarakat, organisasi profesi dan yayasan seperti: praktik dokter dan dokter gigi, balai pengobatan klinik, puskesmas/ balkesmas, panti tresna wreda, pusat pelayanan dan perawatan lansia, praktik perawatan mandiri. c. Pelayanan tingkat rujukan Pelayanan yang diselenggarakan di rumah sakit dan rumah sakit khusus. Rujukan dapat bersifat sederhana, sedang, lengkap dan paripurna.14 Rujukan secara konseptual terdiri atas rujukan medis yang pada dasarnyan menyangkut masalah pelayanan medik perorangan dan rujukan kesehatan masyarakat pada dasarnya menyangkut masalah kesehatan masyarakat luas. 11. Jenis Pelayanan Kesehatan Pada Lansia Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lima upaya kesehatan yaitu: peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), diagnosis dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan dan pemulihan. a. Promosi (Promotif) Upaya promotif merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit. Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan dukungan klien, tenaga provesional dan masyarakat terhadap praktik kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial. Upaya promotif di lakukan untuk membantu organ-organ mengubah gaya hidup mereka dan bergerak ke arah keadaan kesehatan yang optimal serta mendukung pemberdayaan seseorang untuk membuat pilihan yang sehat tentang perilaku hidup mereka. Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia adalah sebagai berikut: 1) Mengurangi cedera, di lakukan dengan tujuan mengurangi kejadian jatuh, mengurangi bahaya kebakaran dalam rumah, meningkatkan penggunaan alat pengaman dan mengurangi kejadian keracunan makanan atau zat kimia. 2) Meningkatkan keamanan di tempat kerja yang bertujuan untuk mengurangi terpapar dengan bahan-bahan kimia dan meningkatkan pengunaan sistem keamanan kerja. 3) Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk, bertujuan untuk mengurangi pengunaan semprotan bahan-bahan kimia, mengurangi radiasi di rumah, meningkatkan pengolahan rumah tangga terhadap bahan berbahaya, serta mengurangi kontaminasi makanan dan obat-obatan. 4) Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mutu yang bertujuan untuk mengurangi karies gigi serta memelihara kebersihan gigi dan mulut. b. Pencegahan (Preventif) Dalam mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier. 1) Melakukan pencegahan primer, meliputi pencegahan pada lansia sehat, terdapat faktor risiko, tidak ada penyakit, dan promosi kesehatan. Jenis pelayanan pencegahan primer adalah: program imunisasi, konseling, berhenti merokok dan minum beralkohol, dukungan nutrisi, keamanan di dalam dan sekitar rumah, manajemen stres, penggunaan medikasi yang tepat. 2) Melakukan pencegahan sekunder, meliputi pemeriksaan terhadap penderita tanpa gejala dari awal penyakit hingga terjadi gejala penyakit belum tampak secara klinis dan mengindap faktor risiko. 3) Jenis pelayan pencegahan sekunder antara lain adalah sebagai berikut: kontrol hipertensi, deteksi dan pengobatan kangker, screening: pemeriksaan rektal, papsmear, gigi mulut dan lain-lain. 4) Melakukan pencegahan tersier, dilakukan sebelum terdapat gejala penyakit dan cacat, mecegah cacat bertambah dan ketergantungan, serta perawatan dengan perawatan di rumah sakit, rehabilisasi pasien rawat jalan dan perawatan jangka panjang. c. Diagnosis dini dan Pengobatan 1) Diagnosis dini dapat dilakukan oleh lansia sendiri atau petugas profesional dan petugas institusi. Oleh lansia sendiri dengan melakukan tes dini, skrining kesehatan, memanfaatkan Kartu Menuju Sehat (KMS) Lansia, memanfaatkan Buku Kesehatan Pribadi (BKP), serta penandatangan kontrak kesehatan. 2) Pengobatan: Pengobatan terhadap gangguan sistem dan gejala yang terjadi meliputi sistem muskuloskeletal, kardiovaskular, pernapasan, pencernaan, urogenital, hormonal, saraf dan integumen DAFTAR PUSTAKA Maryam RS,ekasari,MF,dkk .2008.mengenal usia lanjut dan perawatannya.Jakarta:salemba medika Tamher,s,noorkasiani.2009.kesehatan usia lanjut dengan pendekatan asuhan keperawatan.Jakarta:salemba medika Pranaka, Kris. 2010. Buku Ajar Boedhi Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Stockslager, Jaime L . 2008. Asuhan Keperawatan Geriatrik. Edisi 2. Jakarta :EGC Stanley M, Patricia GB.2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta: EGC Pudjiastuti SS, Budi Utomo. 2003. Fisioterapi pada Lansia. Jakarta: EGC Maryam RS, ekasari MF, dkk .2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta. Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Kamis, 03 Desember 2015

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Bismillahirrahmaanirrahiim Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang . اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Alhamdulillaahi rabbil’alamiin Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam . وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَصَحَبِهِ وَسَلَّمَ Wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa’ala aalihi washahbihi wasallam Semoga Shalawat (Kesejahteraan) dan Salaam (keselamatan) tercurahkan keatas junjungan kami nabi Muhammad, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya . اَللَّهُمَّ اِنِّى أَسْئَلُكَ وَأَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ Allahumma inniy as-aluka wa atawassalu ilayka Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan aku bertawasul kepadaMu . يَاأَللهُ 3 يَارَحْمنُ 3 يَارَحِيْمُ 3 يَاهُ 3 يَارَبَّاهُ 3 يَاسَيِّدَاهُ 3 يَاهُوَ 3 (Yaa Allahu 3x), (Yaa Rahmaanu 3x), (Yaa Rahiimu 3x), (Yaa Hu 3x), (Yaa Rabbaahu 3x), (Ya Sayyidaah 3x), (Yaa Huwa 3x) Ya Allah (3x) , Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih (3x), Wahai Tuhan Yang Maha penyayang (3x) . يَاغِيَاثِى عِنْدَ شِدَّتِى Yaa ghiyaatsiy ‘inda syiddatiy Wahai Tuhan yang selalu menolongku dalam kesusahanku . ياأَنِيْسِى عِنْدَ وَحْدَتِي Yaa aniisiy ‘inda wahdatiy Wahai Tuhan yang selalu membantuku dalam kesendirianku . يَامُجِيْـِبيْ عِنْدَ دَعْوَتِي Yaa mujiibiy ‘inda da’watiy Wahai Tuhan yang selalu memperkenankan doa permohonanku . يَاأَللهُ 3 (Yaa Allahu 3x) Wahai Allah (3x) . اَلله ُلآاِلهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ Allaahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum Allah tidak ada Ilah selain Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) . يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ Yaa Hayyu Yaa Qoyyuumu Wahai Yang Maha Hidup dan Yang Maha Kekal . يَامَنْ تَقُوْمُ السَّمَوَاتُ وَاْلاَرْضُ بِأْمْرِهِ Yaa man taquumus-samaawaatu wal ardlu bi amrihii Wahai Tuhan Yang menciptakan langit dan bumi keseluruhannya dengan perintah-Nya . يَاجَامِعَ الْمَخْلُوْقَاتِ تَحْتَ لُطْفِهِ وَقَهْرِهِ Yaa jaami’al makhluqaati tahta luthfihii waqohrihi Wahai Tuhan Yang menghimpun segala makhluk di bawah kelembutan-Nya dan kegagahan-Nya . أَسْئَلُكَ اللَّهُمَّ اَنْ تُسَخِّرَ لِى رُوْحَانِيَّةَ هَذِهِ اْلآَيَةِ الشَّرِيْفَةِ As-aluka allaahumma an-tusakh-khiro-liy ruuhaaniyyati haadzihil ayatis-syariifah Aku memohon kepada-Mu yang Allah, tundukkanlah bagiku ruhaniyyah ayat yang mulia ini . تُعِيْنُنِىْ عَلَى قَضَاءِ حَوَائِجِى tu’iinuniy ‘alaa qodloo’i hawaa-ijiy agar dia membantuku untuk menunaikan setiap hajatku . يَامَنْ لاَتَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَانَوْمُ Yaa man laa ta-khudzuhuu sinatuw-walaa nauwm Wahai Tuhan Yang tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur . اِهْدِنَااِلَى الْحَقِّ وَاِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ Ihdinaa ilal haqqi wa ilaa thariiqim mustaqiim Bimbinglah kami ke kepada keberanan yang haq dan kepada jalan yang lurus . حَتَّى اَسْتَرِيْحَ مِنَ اللَّوْمِ hattaa astari’hu minal-lauwm Sehingga jauh daripada cela . لآَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ Laa ilaaha illa anta subhaanaka inniy kuntum-minazh-zhaalimiin Tiada Tuhan yang lain selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah dari golongan aniaya . يَامَنْ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ Yaa man lahuu maa fis-samaawaati wamaa fil ardli man dzalladziy yasyfa’u ‘indahuu illaa bi-idznih Wahai Tuhan yang memiliki apa yang terdapat di langit dan dibumi, tiada yang dapat memberi syafa’at pada sisi-Nya tanpa izin-Nya . اَللَّهُمَّ اشْفَعْ لِي وَارْشُدْنِي فِيْمَا اُرِيْدُ مِنْ قَضَاءِ حَوَائِجِي وَاِثْبَاتِ قَوْلِي وَفِعْلِي وَعَمَلِي Allaahumar-fa’niy war-syudniy fiimaa uriidu min qadlaa-i hawaa-ijiy, wa itsbaati qawliy wa fi’liy wa ‘amaliy Wahai Allah, angkat(tolong)-lah aku, dan tunjukkanlah aku pada apa-apa yang aku inginkan dan dari qabul nya hajat-hajatku dan menetapkan kata-kataku, menetapkan perbuatanku serta amalku . وَبَارِكْ لِي فِى اَهْلِي Wa baarik liy fii ahliy Dan anugerahilah bagiku keberkatan, juga pada keluargaku . يَامَنْ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ Yaa man ya’lamu maa bayna aydiihim wamaa kholfahum walaa yuhiithuuna bi-syai-im min ‘ìlmih Wahai Tuhan yang mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah . يَامَنْ يَعْلَمُ ضَمِيْرَ عِبَادِهِ سِرًّا وَجَهْرًا Yaa man ya’lamu dlomiira ‘ibaadihii sirran wa jahran Wahai Tuhan yang maha mengetahui apa-apa yang di hadapan makhluk-Nya baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan . أَسْئَلُكَ اللَّهُمَّ اَنْ تُسَخِّرَلِيْ خُدَّامَ هَذِهِ اْلآَيَةِ الْعَظِيْمَةِ وَالدَّعْوَةِ الْمُنِيْفَةِ As-aluka allaahumma an-tusakh-khiraliy khuddaama haadzihil aayatil ‘azhiimah wad-da’watil muniifah Aku mohon kepada-Mu yaa Allah, tundukkanlah bagiku khodam ayat yang agung ini dan doa yang baik ini . يَكُوْنُوْنَ لِيْ عَوْنًا عَلَى قَضَاءِ حَوَائِجِيْ Yakuununa liy ‘aunan ‘alaa qadlaa’i hawaaijiy Jadikanlah mereka pembantu dan penolongku dalam menunaikan segala hajatku . هَيْلاً 2 جَوْلاً 2 مَلكًا 2 Hailan (2x), Jaulan (2x), Malkan (2x) Hailan (2x), Jaulan (2x), Malkan (2x) . يَامَنْ لاَيَتَصَرَّفُ فِى مُلْكِهِ Yaa man laa yatasharraf fii mulkihii Wahai Tuhan Yang Maha Pengatur dalam kekuasaan-Nya . إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ Illaa bimaasyaa-u wasi’a kursiyyuhussamaawaati wal ardl Melainkan dengan kehendak-Nya. Ilmu serta kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi . سَخِّرْ لِيْ عَبْدَكَ كَنْدِيَاسٍ حَتىَّ يُكَلِّمُنِيْ في حَالِ يَقْظَتِيْ وَيُعِيْنُنِيْ في جَمِيْعِ حَوَائِجِيْ Sakkhirliy ‘abdaka Kandiyaas, hatta yukallimaniy fii haali yaqzhati wayu’iinuniy fiy jamii’i hawaijiy Tundukkanlah bagiku hamba-Mu Kandiyas, sehingga ia dapat berbicara dengaku dalam keadaan terjaga dan membantu serta menolongku dalam tercapainya segala hajatku . يَامَنْ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ Yaa man walaa yauuduhuu hifzhuhumaa wahuwal’aliyyul’azhiim Wahai Tuhan yang tiada sulit bagi-Nya menjaga kedua-duanya (langit dan bumi) dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung . يَاحَمِيْدُ يَامَجِيْدُ يَابَاعِثُ يَاشَهِيْدُ يَا حَقُّ يَاوَكِيْلُ يَاقَوِيُّ يَامَتِيْنُ Yaa Hamiidu Yaa Majiidu Yaa Baa’itsu Yaa Syahiidu Yaa Haqqu Yaa Wakiilu Yaa Qawiyyu Yaa Matiin Wahai Tuhan Yang Maha Terpuji, Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, Wahai Tuhan Yang Maha Membangkitkan, Wahai Tuhan Yang Maha Menyaksikan, Wahai Tuhan Yang Maha Benar, Wahai Tuhan Yang Maha Memelihara , Wahai Tuhan Yang Maha Kuat , Wahai Tuhan Yang Maha Kokoh . كُنْ لِيْ عَوْنًا عَلَى قَضَاءِ حَوَائِجِى Kunliy ‘aunan ‘ala qadlaa’i hawaijiy Jadikanlah bagiku bantuan atas tertunaikannya segala hajat-hajatku . بِأَلْفٍ أَلْفٍ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِا اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ Bi alfi alfi laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim Dengan beribu-ribu tiada daya dan upaya, melainkan dengan kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. . أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ اَيُّهَا السِّيدَ الْكَنْدِيَاسَ Aqsamtu ‘alaika ayyuhas-sayyid al-kandiyaas Aku perintahkan keatas engkau wahai Sayyid Kandiyas . أَجِبْنِىْ أَنْتَ وَخُدَامُكَ وَأَعِيْنُوْنِى فِى جَمِيْعِ أُمُوْرِيْ Ajibnii anta wa khudaamuka wa a’iinuniy fii jami’i umuuriy Jawablah aku beserta seluruh pembantumu bantulah aku dalam segala urusan-urusan dan hajatku . بِحَقِّ مِاتَعْتِقِدُوْنَهُ مِنَ الْعَظَمَةِ وَالْكِبْرِيَاءِوَبِحَقِّ هَذِهِ اْلآيَةَ ِالْعَظِيْمَةِ Bihaqqi maa ta’taqiduunahuu minal azhomati wal kibriyaa-i Dengan Haq apa yang diyakinkan dengan keagungannnya, dan dengan berkat ayat yang agung . وَبِسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ Wa bisayyidinaa Muhammadin ‘alayhish-shalaatu was-salaam Dan dengan berkat junjungan kami Muhammad SAW

Senin, 30 November 2015

guide me GOD

outpouring of the heart for the Lord GOD no one can erase from the heart until whenever, this creature has a lot to do things that are prohibited by MU started now accept repentance ku O GOD, to mak father mimi mama probably son-in-law you can not make happy but son-in-law you will mengasih happiness there God willing, for my wife thank you for accompanying me during this father loves you very much until whenever, for my son's father love you sorry if the father is not always beside Mujadilah filial to parents, religion, country , the most important of your god gOD, keep them yes gOD give them happiness

Kamis, 26 November 2015

son of the cirebon

as a native son I'm proud to be citizens cirebon because cirebon has a wealth that can not be owned by another town

 Hasil gambar untuk wajah asli cirebon